Segala puji bagi Allah pemilik keutamaan dan cinta yang berkenan mengisi jagat semesta dengan rahmatNYA yang menjadikan hidup ini lebih berwarna dari sekedar rentetan umur dan lintasan waktu semata, yang telah mengutus dan mengangkat nabi-nabi dengan kebijaksanaanNYA…menjadikan mereka teladan bagi kita sebagai umat agar kelak meraih selamat di akhirat, yang telah mengajari manusia bahwa hidup di dunia ini hanya sesaat sebab akan berakhir dengan kiamat dan kembali kepadanya dengan meminta tanggung jawab atas apa yang telah kita perbuat.salawat beriringan salam senantiasa terlimpah curahkan kepada baginda nabi muhammad saw. Manusia paling sempurna dengan kepribadian yang mulia penggenap risalah kerasulan sekaligus menjadikan islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Sebelum kita bicara jauh dan panjang lebar Mari kita mencoba renungi firman Allah dalam surat Al-anfal ayat 2-4
إِنَّمَا اْلمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَالله وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيـَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيـْمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَـتَوَكَّـلُوْنَ الَّذِيْنَ يُقِـْيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْـفِقُونَ أُولئِـكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيْمٌ
Sekurang-kurangnya ayat di atas memberikan lima kriteria pantasnya seseorang dikatakan sebagai orang yang beriman.. yang pertama adalah ketika disebutkan nama Allah bergetar hatinya terpanggil jiwanya untuk mengakui kebesaran tuhannya kemudian yang kedua ketika dibacakan ayat-ayatNYA dalam Alquran bertambah keimanannya bertambah keyakinannya sehingga menyerahkan segala urusannya kepada Allah swt dengan shalat dan menafkahkan harta mereka pada jalan Allah swt.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah..
Kalaulah ditanya imankah kita kepada Allah tentu saja jawabannya ya!.. kami beriman kepadanya.. betul kami telah meyakini kebesaran-kebesaraNYA namun ketika ditanya sebatas apakah wujud keimanan kita yang telah kita nyatakan dalam sikap dan tingkah laku kita.. tentu saja menjawab pertanyaan ini tidaklah mudah bahkan bisa jadi kita akan menghadirkan jutaan pertanyaan yang lain..sudah sungguh-sungguhkah kita meyakininya.. sudah benar-benarkah cara kita meyakininya dan masih banyak lagi…
Tak bisa kita pungkiri bahwa sudah berapa kali kita terjebak lebih mendahulukan pekerjaan dunia sehingga melalaikan kita dari keagungan asmanya.. kita telah melupakan dia yang mengatur segalanya
Berulang kali kita terperangkap menghabiskan waktu dan kesempatan yang diberikannya pada kita untuk hal-hal yang tidak berguna sehingga menggeser kita sedikit demi sedikit kemudian menjauh darinya
Teramat sering kita terbuai terlena kekayaan harta sehingga menggusur ingatan kita akan siapakah yang telah menganugerahkan itu pada kita
Dibibir kita katakan sabar tapi kita ingkari teladan ibrahim dengan kebesaran jiwa dan kesalehannya didalam kata kita memanjatkan pujian syukur namun bersamaan itu pula kita lupa kisah sulaiman manusia berlimpah kekayaan harta yang begitu tunduk dan patuh padanya
Tak terhitung sudah berapa kali kita mencoba lari dari Alllah ketika musibah datang dengan mencaci… mencerca… marah… seakan menjadi manusia paling sengsara di dunia, mencoba lari mencari tempat lain selain Allah untuk sekedar mengeluh dan mengaduh.. padahal kita tak lebih sengsara dari nabi Muhammad saw. yang jauh lebih miskin… jauh lebih sengsara… jauh lebih melarat.. namun tidak sama sekali menggoyahkan imannya.. tidak sama sekali merusak kemesraannya dengan Allah… kita telah melupakan teladan yusuf manusia ciptaanNYA yang tampan menawan, melupakan kejayaan islam periode awal yang telah memukul mundur imperium romawi dan Persia dengan berbekal cinta dan keimanan padaNYA.. dengan membangun dan menghiasi malam mereka dengan tahajjud dan dzikir panjang.. sehingga pernah tercatat di dalam sejarah peradaban hidup manusia dengan tinta emasnya bahwa mereka laksana pendeta ketika malam menjelang dan seperti singa disiang hari ketika berada di medan perang… kita telah banyak melupakan perintahNYA…sengaja palingkan wajah dari laranganNYA… Alquran yang kita baca sekedar kita baca tidak lebih… sementara kandungan ayatnya tak sempat kita jadikan ibrah dan pelajaran
Kalau sudah begitu lantas iman yang manakah yang kita sebut iman ketika yang memberi kenikmatan sering kita jadikan yang kedua dan ketiga… keimanan yang manakah yang kita banggakan sebagai bentuk penyerahan kita ketika semua yang serba sementara menjadi selingkuhan kita terhadap yang memberi rahmat kekuasaan dan cinta dengan menepikan semua perintah dan laranganNYA
Adakah cinta dan kasih sayangNYA yang pernah sanggup kita hitung jumlahnya… dari detik ke detik lalu menit kemenit…jam…hari…bulan…dan tahun… masih kurangkah bukti cinta Allah pada kita lewat hembusan udara yang selalu melingkungi kita…lewat penglihatan..pendengaran..dan umur yang panjang..ataukah kita termasuk kedalam golongan orang- orang yang dimaksud Allah dalam
firmanNYA surat Al-Hajj 46
“Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”
Bukan mata kepala kita yang buta dan tak berfungsi… bukan pula telinga yang tuli tapi segumpal hati yang ada di dada kiri… naudzu billah tsumma naudzu billah….mungkin Sampai di sini saja pembicaraan kita.. mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dapat merealisasikan keimanan dengan tunduk dan patuh… menjadikan Allah sebagai tempat berserah dan pasrah.. menjadikan Allah satu-satunya tempat mengeluh dan mengaduh
Ditulis oleh Muhamad Tohayudin