Padahal ditolak…! sok cuex… kakakakak…

April 22, 2010

Setiap kita adalah wartawan, setiap kita adalah bagian sejarah dan memiliki hak serta kesempatan yang sama dalam mengabadikan peristiwa, sejumlah kalimat yang menjadi motivasi saya ikuti seleksi ini -untuk bisa dikatakan memanfaatkan peluang yang disediakan Republika untuk menjadi bagian tim pencatat sejarah dan mempublikasikannya ke tengah khalayak

Di dalam keterbatasan wawasan dan pengetahuan saya, seorang wartawan adalah pahlawan peradaban yang sedia memberikan seluruh potensi yang dimilikinya dalam menyampaikan beragam informasi dan berita, tentunya dengan segala disiplin dan kode etik yang menjadi pakaiannya

Terkadang mereka berdiri di tengah kekhawatiran kebanyakan orang menghadapi bencana, bahkan siap hadir di antara kecamuknya konflik, meskipun ada juga yang bilang bahwa menjadi wartawan akan lebih banyak mengadakan janji dengan narasumber untuk menggali informasi dari mereka atau juga mengadakan jumpa pers untuk menerangkan ini dan itu

Oleh karena itu seorang wartawan juga pasti ditunutut untuk membentangkan cakrawala berfikir dan berwawasan seluas mungkin sehingga dia mampu hidup serta mengerti bagaimana bersikap di mana saja dan dalam keadaan sesulit apapun. Jadi, dalam paragraf ini saya mau katakan bahwa menjadi wartawan adalah menjadi manusia yang supel, luwes dan cerdas

Terlalu banyak kata -sebenarnya- untuk mengungkapkan keinginan saya bergabung sebagai wartawan. namun, karena essai ini hanya disyaratkan mencaoai 2000 karakter, maka saya berusaha membatasinya meskipun akhirnya melampaui itu.

Jelasnya wartawan adalah profesi yang saya damba dan nampakya sesuai dengan profesi yang selama ini masih saya lakukan di the nielsen company indonesia sebagai seorang interviewer, tidak hanya itu,saya juga hobby mengutak-atik kata menjadi sebuah kalimat yang mempunyai makna, jika anda tidak cukup yakin anda boleh periksa muatan outbox telpon genggam saya, entah berapa puluh sms yang telah saya hapus karena melebihi kapasitas memori bahkan terlalu sering saya katakan pada siapa saja yang menjalin komunikasi dengan saya lewat seluler ini bahwa lidah saya tidak lebih kuat dari urutan kata yang saya atur lewat sms. Llucu memang, tapi itulah cara saya menyapa dan memperkuat silaturrahim kepada orang-orang di sekeliling saya.

Jika anda menerima saya nanti untuk bergabung dalam tim tentunya akan menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi saya mengingat profesi ini penuh dengan tantangan dan akan menjadi kepuasan yang tidak terhingga telah mendapatkan peluang memberikan kontribusi -menurut saya- bagi sejarah

Entah sudah berapa kali tantangan serupa telah saya lewatkan sia-sia hanya karena kualifkasi yang kurang saya penuhi. Tapi itu dahulu dan tidak untuk sekarang, saat ini saya paksa untuk mencoba kalahkan kekhawatiran itu dan membuangnya jauh, toh saya tidak bisa memutuskan bahwa anda menerima saya atau tidak. Setidaknya mencoba lebih baik daripada berdiam diri dalam kubangan ketidakpastian atau menanti sampai mati ditengah sumpeknya nasib yang enggan berpihak pada manusia tanpa tumpukan tittle seperti saya.

Mengakhiri essai yang ini, menarik saya pinjam kata-kata KH. Hasan Abdullah Sahal. Sseorang pimpinan pondok modern -yang masih menurut saya- terlalu bersahaja “bahwa yang terjadi belum tentu ditulis, yang tertulis belum tentu dibaca. Jadi, dibaca ataupun tidak tetaplah menulis”


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.